Assalamualaikum Wr.Wb.
Marilah kita panjatakan puji dan
syukur atas rahmat tuhan yang maha Esa, karena atas limpahan rahmatnyalah saya
bisa meyelesaikan segala sesuatu yang ingin saya selesaikan dan anda bisa
membaca hasil pengamatan dan wawancara saya pada blog ini. Tak lupa saya juga
ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada
segala pihak yang sudah membantu saya secara langsung maupun tidak langasung.
Untuk tak bertele tele lagi mari kita langsung masuk pada inti permasalahnnya.
Indonesia merupakan salah satu
negara berkembang dalam kawasan Asia Teggara yang sedang gencar-gencarnya
melakukan pembangunan, entah itu dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi,
pemerintahan, maupun dalam segi infrastruktur.
Dalam segi infrastruktur Indonesia
masih tergolong kurang meumpuni. Berdasarkan World Economic Forum (WEF),
infrastruktur kita (Indonesia) masih menempati urutan 82 dari 142 negara yang
memiliki kualitas infrastruktur baik. Maka untuk itu peningkatan dalam segi
infrastruk indonesia sangat di perlukan kedepannya dalam mendukung kemajuan
bangsa.
Seiring dengan semakin gencarnya
pembangunan infrastruktur di indonesia, saya merasa tertarik untuk melakukan
pengamatan dan wawancara terhadap proyek-proyek yang berkaitan dengan
infrastruktur yang sedang di jalankan. Dengan kelompok yang beranggotakan tiga
orang, alhamdulillah saya dan dua teman saya mampu menyelesaikan pengamatan
kami.
Objek pengamatan yang kami amati
adalah proyek pembangunan jalan tol Cinere-Jagorawi (Cijago) seksi II yang
berlokasi di kota Depok. Dengan semakin maraknya pencanangan proyek
pembangunan jalan tol di Indonesia, mengakibatkan rasa keingintahuan kami akan Highway Project semakin mendalam.
Proyek tol Cijago seksi II ini
merupakan bagian dari tol Cijago yang meliputi ruas Bogor Raya-Kukusan (Kampus
Universitas indonesia). Pengerjaan proyek ini mulai di laksananakan pada bulan
Desember 2013 lalu, dan di rencanakan akan memakan waktu pengerjaan 1,5 tahun
kalupun tidak ada halangan yang berarti. Kenyataannya proyek ini mandet hingga
sekarang, penyebab utama lambatnya penyelesaian proyek ini tak lain dan tak
bukan adalah pembebasan lahan.
Dalam pembangunan jalan raya
maupun jalan tol masalah pembebasan
lahan hampir tidak mungkin dihindari oleh para investor dan kontraktor. Masalah
pembebasan lahan merupakan hal yang sangat krusial yang dapat menentukan cepat
lambatnya penyelesaian sebuah proyek. Hal ini juga yang mengakibatkan
terhambatnya proses pengerjaan tol Cijago seksi II yang memakan waktu sampai ±3
tahun dan terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu.
Untuk tol Cijago seksi II
sendiri, masalah pembebasan lahan yang bisa kita lihat adalah pada bagian
pengerjaan yang terletak di Margonda, Depok. Di situ dapat kita lihat bahwa ada
sebuah musollah yang masih berdiri. Di proyek ini pun ada 3 sampai 4 titik yang
masih bermasalah dengan pembebasan lahannya dan tidak bisa disentuh oleh para
kontraktor.
(musollah yang masih berdiri pada proyek Cijago seksi II)
Sebenarnya pada masalah
pembebasan lahan inipun sudah ada keputusan dari pengadilan tinggi dan
pengadilan negeri, namun karena ada proses banding dari pihak yng kalah,
mengakibatkan proyek ini terus molor. Untuk mengatasi maslah inipun kontraktor
menerapkan sistem pengerjaan spot by spot, yaitu dengan mengerjakan terlebih
dahulu zona yang sudah bebas.
Dalam segi daya dukung tanah pada
lokasi proyek dapat dikatakan spesifikasinya dalam segi pembuatan jalan raya
maupun highway di atas rata-rata,
yaitu mencapai angka 6 dengan standar 5 dalam skala CBR (California Bearing Ratio), bahkan ada beberapa bagian yang skala
CBR nya mencapai 7 sampai 8. Dalam
segi teknispun tidak ada masalah yang berarti dalam pengerjaan proyek ini.
Proyek Cijago seksi II merupakan
proyek yang diinfestasikan oleh infestor swasta, antara lain Gramedia group dan
Kompas group dengan anak perusahaannya yaitu TLKJ. Biaya investasi dari
perusahaan tersebut terbilang besar, yaitu mencapai lebih dari 600 Milyar
rupiah.
Proyek tol ini membentang
sepanjang ± 6km dengan lebar main road 32m.
Tol Cijago seksi II inipun terbagi menjadi dua paket, yaitu 2A dan 2B. Sbenarnya
tol cijago ini terbagi menjadi tiga seksi, untuk seksi ke tiga belum di tender
di karenakan beberapa masalah contohnya pembebesan lahan. Syarat untuk
berjalannya suatu proyek jalan tol adalah total presentase lahan yang telah di
bebaskan di atas 30%, ini yang menyebabkan seksi III belum kunjung di mulai.
Sesuai pantauan di lapangan untuk
proses pengerjaan proyek ini sendiri sudah mulai masuk tahap pembangunan jalan
dan toll gates nya. Untuk lebih lebih
mengetahui sampai mana proses pngerjaan yang sudah dilakukan anda dapat melihat
gambar di bawah ini.
(proses pengerjaan proyek)
(toll gate/gerbang tol)
(Under pass tol Cijago)
(Main road)
Dalam pengerjaan tol, struktur
utama adalah jalan dan jembatan. Dalam segi pengerjaaan jalan ada perbedaan
signifikan antara pengerjaan jalan tol dan jalan raya biasa, contohnya dalam
segi perkerasannya berbeda. Untuk tipe perkerasan jalan tol ini digunakan jenis
rigid pavement. Beton yang
digunakanpun beton yang memiliki nilai slam maksimum 5.
Untuk spesifikasi material
sendiri kontraktor menggunakan dua macam standar, yaitu standar SNI dan ANSI (American National Standard Institute). Pengguanaan
standar ANSI sendiri di karenakan ada beberapa hal yang harus mengacu pada
standar tersebut, contohnya seperti jenis besi dan beton.
Narasumber; Zulfakhri (HKI Material Engineer)