Kamis, 15 Desember 2016

Proyek Tol Cijago Seksi II





Assalamualaikum Wr.Wb.
Marilah kita panjatakan puji dan syukur atas rahmat tuhan yang maha Esa, karena atas limpahan rahmatnyalah saya bisa meyelesaikan segala sesuatu yang ingin saya selesaikan dan anda bisa membaca hasil pengamatan dan wawancara saya pada blog ini. Tak lupa saya juga ingin mengucapkan banyak terima kasih  kepada segala pihak yang sudah membantu saya secara langsung maupun tidak langasung. Untuk tak bertele tele lagi mari kita langsung masuk pada inti permasalahnnya.

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dalam kawasan Asia Teggara yang sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan, entah itu dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, pemerintahan, maupun dalam segi infrastruktur.

Dalam segi infrastruktur Indonesia masih tergolong kurang meumpuni. Berdasarkan World Economic Forum (WEF), infrastruktur kita (Indonesia) masih menempati urutan 82 dari 142 negara yang memiliki kualitas infrastruktur baik. Maka untuk itu peningkatan dalam segi infrastruk indonesia sangat di perlukan kedepannya dalam mendukung kemajuan bangsa.

Seiring dengan semakin gencarnya pembangunan infrastruktur di indonesia, saya merasa tertarik untuk melakukan pengamatan dan wawancara terhadap proyek-proyek yang berkaitan dengan infrastruktur yang sedang di jalankan. Dengan kelompok yang beranggotakan tiga orang, alhamdulillah saya dan dua teman saya mampu menyelesaikan pengamatan kami.

Objek pengamatan yang kami amati adalah proyek pembangunan jalan tol Cinere-Jagorawi (Cijago) seksi II yang berlokasi di kota Depok. Dengan semakin maraknya pencanangan proyek pembangunan jalan tol di Indonesia, mengakibatkan rasa keingintahuan kami akan Highway Project semakin mendalam.

Proyek tol Cijago seksi II ini merupakan bagian dari tol Cijago yang meliputi ruas Bogor Raya-Kukusan (Kampus Universitas indonesia). Pengerjaan proyek ini mulai di laksananakan pada bulan Desember 2013 lalu, dan di rencanakan akan memakan waktu pengerjaan 1,5 tahun kalupun tidak ada halangan yang berarti. Kenyataannya proyek ini mandet hingga sekarang, penyebab utama lambatnya penyelesaian proyek ini tak lain dan tak bukan adalah pembebasan lahan.

Dalam pembangunan jalan raya maupun jalan tol masalah pembebasan lahan hampir tidak mungkin dihindari oleh para investor dan kontraktor. Masalah pembebasan lahan merupakan hal yang sangat krusial yang dapat menentukan cepat lambatnya penyelesaian sebuah proyek. Hal ini juga yang mengakibatkan terhambatnya proses pengerjaan tol Cijago seksi II yang memakan waktu sampai ±3 tahun dan terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu.

Untuk tol Cijago seksi II sendiri, masalah pembebasan lahan yang bisa kita lihat adalah pada bagian pengerjaan yang terletak di Margonda, Depok. Di situ dapat kita lihat bahwa ada sebuah musollah yang masih berdiri. Di proyek ini pun ada 3 sampai 4 titik yang masih bermasalah dengan pembebasan lahannya dan tidak bisa disentuh oleh para kontraktor.

(musollah yang masih berdiri pada proyek Cijago seksi II)

                                     (lahan sengketa lainnya yang masih menjadi masalah)
 
Sebenarnya pada masalah pembebasan lahan inipun sudah ada keputusan dari pengadilan tinggi dan pengadilan negeri, namun karena ada proses banding dari pihak yng kalah, mengakibatkan proyek ini terus molor. Untuk mengatasi maslah inipun kontraktor menerapkan sistem pengerjaan spot by spot, yaitu dengan mengerjakan terlebih dahulu zona yang sudah bebas.

Dalam segi daya dukung tanah pada lokasi proyek dapat dikatakan spesifikasinya dalam segi pembuatan jalan raya maupun highway di atas rata-rata, yaitu mencapai angka 6 dengan standar 5 dalam skala CBR (California Bearing Ratio), bahkan ada beberapa bagian yang skala CBR nya mencapai 7 sampai 8. Dalam segi teknispun tidak ada masalah yang berarti dalam pengerjaan proyek ini.

Proyek Cijago seksi II merupakan proyek yang diinfestasikan oleh infestor swasta, antara lain Gramedia group dan Kompas group dengan anak perusahaannya yaitu TLKJ. Biaya investasi dari perusahaan tersebut terbilang besar, yaitu mencapai lebih dari 600 Milyar rupiah.

Proyek tol ini membentang sepanjang ± 6km dengan lebar main road 32m. Tol Cijago seksi II inipun terbagi menjadi dua paket, yaitu 2A dan 2B. Sbenarnya tol cijago ini terbagi menjadi tiga seksi, untuk seksi ke tiga belum di tender di karenakan beberapa masalah contohnya pembebesan lahan. Syarat untuk berjalannya suatu proyek jalan tol adalah total presentase lahan yang telah di bebaskan di atas 30%, ini yang menyebabkan seksi III belum kunjung di mulai.

Sesuai pantauan di lapangan untuk proses pengerjaan proyek ini sendiri sudah mulai masuk tahap pembangunan jalan dan toll gates nya. Untuk lebih lebih mengetahui sampai mana proses pngerjaan yang sudah dilakukan anda dapat melihat gambar di bawah ini.

(proses pengerjaan proyek)

(toll gate/gerbang tol)


(Under pass tol Cijago)


(Main road)


Dalam pengerjaan tol, struktur utama adalah jalan dan jembatan. Dalam segi pengerjaaan jalan ada perbedaan signifikan antara pengerjaan jalan tol dan jalan raya biasa, contohnya dalam segi perkerasannya berbeda. Untuk tipe perkerasan jalan tol ini digunakan jenis rigid pavement. Beton yang digunakanpun beton yang memiliki nilai slam maksimum 5.

Untuk spesifikasi material sendiri kontraktor menggunakan dua macam standar, yaitu standar SNI dan ANSI (American National Standard Institute). Pengguanaan standar ANSI sendiri di karenakan ada beberapa hal yang harus mengacu pada standar tersebut, contohnya seperti jenis besi dan beton.




Narasumber; Zulfakhri (HKI Material Engineer)